12 June 2011

Pintar Menggunakan Kartu Kredit

Kartu kredit sebagai salah satu fasilitas pinjaman yang banyak tersedia di masyarakat saat ini seringkali menjadi momok buat sebagian masyarakat. Kartu kredit seringkali dianggap sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi dapat membantu dan memberikan kemudahan memperoleh pinjaman sewaktu-waktu (meskipun bunganya paling mahal dibanding instrumen hutang yang lain) di sisi lain kita sering mendengar, atau mungkin mengenal orang yang akhirnya menjadi korban kartu kredit. Sebenarnya bukan kartu kreditnya yang jahat, namun penggunanya yang seringkali keliru dalam memanfaatkan kartu kredit sebagai instrumen hutang. Sebagai istrumen keuangan, meskipun kartu kredit banyak digunakan oleh masyarakat.. problemnya adalah masyarakat tidak mendapatkan edukasi yang cukup tentang bagaimana menggunakan kartu kredit secara baik agar tidak terjebak dalam lilitan kartu kredit.



Berikut adalah beberapa TIPS menggunakan kartu kredit:
  1. Plafon atau saldo kartu kredit bukanlah penghasilan tambahan. Setiap sen uang yang anda ambil dari pinjaman kartu kredit harus anda kembalikan berikut bunganya. Kewajiban ini adalah mutlak.. apakah anda bekerja atau tidak bekerja, punya uang atau tidak punya uang.
  2. Gunakan kartu kredit hanya jika menguntungkan. Berhutanglah untuk untung, jika tidak untung.. jangan berhutang. Bandingkan jika anda membeli barang yang anda inginkan itu dengan menabung. Apakah harganya menjadi lebih murah atau lebih mahal. Jika ternyata barang yang anda beli akan menjadi lebih mahal (biasanya sih tidak) dan bahkan jika anda membayar bunga kartu kredit itupun anda masih untung maka silakan saja anda membeli dengan kartu kredit. Gunakan fasilitas diskon produk atau jasa yang ditawarkan kartu kredit anda.
  3. Bayar tepat waktu. Jangan terlambat membayar kartu kredit anda, karena akan dikenakan penalti di luar bunga yang anda harus bayar. Ini berarti anda membayar lebih banyak untuk setiap sen yang anda keluarkan untuk barang yang anda beli
  4. Lunasi segera. Jika anda tidak segera melunasi, pihak kartu kredit akan membebankan bunga kepada sisa hutang anda. Bank menginginkan anda tetap memiliki saldo hutang, karena dari sanalah mereka menciptakan pendapatan dari bunga yang dibebankan kepada anda dari sisa hutang anda. Mengapa pembayaran minimum diletakkan di posisi strategis dalam saldo tagihan anda? Anda diharapkan (oleh bank tentunya) agar hanya membayar minimal dari pembayaran tagihan anda atau ya tidak jauh dari angka seputar itu. Semakin lama anda berhutang, semakin lama pihak kartu kredit memperoleh income. Jadi, katakan "tidak" pada pembayaran minimum.
  5. Jangan tergoda iming-iming diskon semata. Tahukah anda kartu kredit menawarkan banyak kemudahan diskon ekslusif dengan tujuan agar anda segera menggunakan kartu kredit. Strategi berikutnya adalah bagaimana caranya agar anda tidak segera melunasi hutang anda. Meskipun kita tahu bahwa hutang kartu kredit harus dilunasi segera... melihat tulisan pembayaran minimal pada lembar tagihan terlihat sangat menarik.
  6. Miliki secukupnya saja. Anda tidak membutuhkan banyak kartu kredit untuk semua keperluan atau diskon yang ditawarkan oleh kartu kredit. Masih banyak fasilitas lain untuk memperoleh tawaran diskon khusus untuk hal-hal yang anda inginkan termasuk misalnya layanan jasa voucher diskon yang sekarang banyak dipasarkan. Miliki 1 atau 2 kartu kredit saja yang memiliki saldo besar dengan bunga yang rendah.
Kartu kredit bukan musuh jika kita pandai menggunakan dan cermat mengendalikan penggunaannya. Poin, diskon dan penangguhan bunga untuk tagihan bulan pertama selalu bisa kita manfaatkan sebaik mungkin selama kita disiplin dalam penggunaannya. Semoga manfaat.

07 June 2011

Merencanakan Keuangan Sendiri

Melakukan rencana keuangan sendiri? Kenapa tidak...

Saya sering mendapat pertanyaan apakah rencana keuangan selalu harus dilakukan atau dibantu oleh seorang perencana keuangan profesional? Saya jawab tidak selalu. Anda boleh melakukan rencana keuangan sendiri karena anda adalah orang yang paling memiliki keterikatan secara emosional dengan uang anda, bukan si konsultan, bukan tenaga pemasaran, bukan seorang analis.. ya intinya bukan orang lain. Anda yang memeras keringat dan memperoleh uang itu, sehingga sebenarnya yang paling punya kepentingan utama untuk merencanakan keuangan adalah diri anda sendiri.

Pertanyaan yang lebih tepat mungkin adalah.. sebaiknya kapan saya melakukan rencana keuangan saya sendiri? Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada siapa yang melakukan rencana keuangan anda. Idealnya, seseorang melakukan rencana keuangan sejak memiliki atau memperoleh uang. Baik itu secara reguler maupun uang yang diperoleh secara insidental (tak terduga seperti uang lebaran, warisan dan sebagainya). Sejak kapankah itu? Sejak dini, bahkan sejak kecil bisa dimulai pendidikan tentang merencanakan keuangan sederhana. Hal ini bisa dimulai sejak seorang anak menerima uang saku (perhatikan saya menghindari kata-kata uang jajan :D).

Kebanyakan anak hanya dididik untuk menyisihkan uang saku untuk ditabung, dan kemudian tabungannya digunakan untuk membeli barang-barang yang bersifat konsumtif. Padahal dari uang saku tersebut, seorang anak bisa mendapat banyak pesan moral dan pendidikan keuangan penting serta kebiasaan yang jauh lebih baik untuk masa depannya. Misalnya alokasi pengeluaran, arahkan seorang anak ketika menerima uang saku agar menempatkannya dalam 3 pos pengeluaran (tidak terlalu banyak agar anak bisa dengan mudah melakukannya). Yaitu, untuk sedekah, untuk kebutuhan di sekolah (makan dan minum) dan untuk tabungan. Dari sini seorang anak sudah dibiasakan untuk berbagi, melakukan prioritas dan menunda kesenangan. Menarik?

Kemudian bagaimana seandainya anda adalah seorang lajang yang bekerja? Berikut adalah rencana keuangan yang bisa dilakukan oleh anda yang masuk dalam kategori berikut:
  1. Bisa dimulai dengan minimal melakukan seperti anak tadi. Mengalokasikan pengeluaran. Menempatkan kemana uang dibelanjakan dalam kurun waktu tertentu, misalnya sebulan.Alokasikan pengeluaran berdasarkan prioritas dari yang pokok, penting dan baru kebutuhan lain-lain
  2. Mulai merencanakan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang (seperti merencanakan kebutuhan sejumlah dana darurat, persiapan menikah dan yang paling panjang mempersiapkan dana pensiun)
  3. Mempersiapkan asuransi sendiri, untuk kebutuhan perlindungan terutama sekali kesehatan. Bersyukur jika di tempat anda bekerja sudah memiliki program perlindungan ini
  4. Merencanakan untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatan dengan mengembangkan skill atau keahlian penting yang sesuai dengan kompetensi serta meningkatkan kualitas diri.
Hal-hal ini bisa anda lakukan sendiri dan anda pelajari dari buku-buku, literatur, internet dan sebagainya. Kembangkan kecerdasan finansial anda sejak dini agar anda mandiri secara finansial.

05 June 2011

Merencanakan Keuangan? Apa itu?

Banyak orang yang masih belum paham ternyata tentang apa itu rencana keuangan. Wajar sekali, karena ilmu perencanaan keuangan masih sangat awam di Indonesia. Belum terlalu memasyarakat dan belum disadari pentingnya oleh berbagai kalangan.

Rencana keuangan sederhananya adalah sebuah cara untuk mencapai tujuan kehidupan dari seseorang atau keluarga dengan cara melakukan pengelolaan keuangan secara menyeluruh, menyentuh berbagai aspek dari individu/orang tersebut dan sesuai dengan kemampuannya saat itu. Melalui perencanaan keuangan yang baik seseorang diharapkan dapat memperoleh kualitas kehidupan yang lebih baik pula, hidup sesuai dengan kemampuan dan mandiri secara finansial. Nah, apalagi itu mandiri secara finansial.

Pernah mendengar kata-kata "uang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang"?. Sebuah cara pandang masyarakat saat ini yang menggambarkan betapa kehidupan kita saat ini sangat tersentuh dengan uang. Bukan uang yang penting memang dalam kehidupan, tetapi segala sesuatu yang kita anggap penting di dunia ini bisa kita capai jika kita memiliki cukup uang. Sebagai contoh adalah kita sangat menyayangi anak-anak kita, kita menginginkan dia memperoleh kasih sayang, menjadi orang yang berkualitas, baik kualitas intelektual maupun spiritual. Anak bisa menjadi salah satu tujuan hidup orangtua di negara manapun. Namun tidak bisa dipungkiri, untuk menciptakan anak yang berkualitas dia membutuhkan pendidikan yang baik, gizi yang baik, kesehatan yang terjamin dan kedamaian dan kebahagiaan. Hampir 75% hal yang barusan saya sebutkan membutuhkan uang yang cukup untuk mewujudkannya.

Sayangnya, uang tidak selalu tersedia dalam jumlah yang memadai dalam kehidupan kita dan dalam kehidupan uang bisa datang dan pergi. Dulu ketika kecil, kondisi finansial kita ditopang oleh orangtua kita. Biaya hidup kita dibayar oleh orangtua kita, kebutuhan pangan, sandang, papan dan pendidikan disediakan karena kita tenaga atau pikiran kita belum dapat ditukar dengan uang untuk menjadi pendapatan. Namun, ketika kita sudah beranjak dewasa hal ini berubah. Kita mencari uang sendiri untuk kebutuhan hidup kita dan keluarga kita kelak. Pada usia-usia ini kita disebut usia produktif, menghasilkan uang dan bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri. Kita mandiri secara finansial tidak lagi tergantung kepada sesama.

Dalam kehidupan kita menghadapi 2 masa tidak produktif dan hanya 1 masa produktif (sekitar 25-30 tahun). Masa tidak produktif mengakibatkan kita menjadi bergantung secara finansial kepada orang lain, apakah itu orangtua, saudara, kerabat, teman atau lainnya. Cukuplah kita bergantung secara finansial ini satu kali dalam kehidupan. Yaitu, ketika kita lahir hingga masa lajang kita. Dengan perencanaan keuangan yang baik, orang bisa mandiri secara finansial di setiap tahapan kehidupannya sejak lajang dan bekerja hingga akhirnya pensiun dan bahkan bisa meninggalkan warisan yang memadai untuk keturunan kelak. Dengan rencana keuangan yang baik, seseorang bisa mengakumulasi cukup aset untuk hari tuanya, membiayai pendidikan anaknya, mempersiapkan dana untuk kebutuhan darurat (sakit, perbaikan rumah dan kendaraan dan sebagainya), terbebas dari hutang dan membebaskan diri dari mewariskan keturunan dengan beban finansial.

Kekuatan Ritual

Ritual.. kenapa kata ritual yang saya pilih? Apakah tidak ada kata lain? Kata ritual disini menggambarkan sebuah prilaku atau tindakan pengulangan secara terus-menerus yang seringkali tidak kita sadari betapa besar kekuatan dari pengulangan itu.

Jika suatu tindakan kita lakukan secara konsisten, maka tindakan itu tiba-tiba menjadi otomatis. Bahkan tanpa kita harus memerintahkan diri kita untuk melakukannya, secara otomatis tindakan itu bisa tersempurnakan tanpa campur tangan dari diri kita.

Saya akan mengambil sebuah contoh. Jika kita membiasakan diri kita sejak kecil untuk sikat gigi setiap bangun tidur di pagi hari, dan kita lakukan hal ini secara berulang-ulang setiap pagi, setiap hari tanpa tidak terkecuali. Akan datang suatu saat dimana kebiasaan itu menjadi bagian dari diri kita, dimana diri kita tiba-tiba merasa tidak nyaman jika tidak melakukannya atau kehilangan kesempatan melakukannya meskipun hanya satu kali. Ini yang disebut dengan ritual.

Sebenarnya seberapa penting arti ritual ini dalam kehidupan kita?

Manusia adalah mahluk dengan sekumpulan kebiasaan. Kebiasaan terbentuk dari pengulangan tindakan setiap hari atau setiap waktu. Menurut peneliti, dibutuhkan sekitar 21 hari melakukan ritual agar ritual itu menjadi bagian dari diri kita. Tidak lama sebenarnya, tapi membutuhkan konsistensi dan tekad.

Bayangkan jika kita adalah sekumpulan kebiasaan-kebiasaan buruk (dan seringkali hal seperti ini yang terjadi) seperti bangun terlalu siang, tidak pernah berolahraga, kebiasaan makan yang berlebihan, pola hidup boros dan sebagainya. Orang kebanyakan tidak pernah dengan sengaja merancang setiap tindakan kita hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit atau bahkan detik demi detik. Problemnya adalah kebiasaan ini akhirnya yang menentukan kualitas kehidupan kita, begitu otomatis dan kuatnya suatu kebiasaan ketika kebiasaan itu sudah terbentuk, maka akan menjadi sulit bagi kita untuk keluar dari kebiasaan itu kecuali kita memutus pola yang sudah ada dengan kekuatan motivasi dari dalam dan keputusan yang bulat.

Di sebuah pelatihan yang pernah kami lakukan, ada sekumpulan yang memiliki kebiasaan keuangan berhutang sehingga berada dalam kesulitan keuangan karena pendapatan bulanannya bisa dikatakan sebagian besar digunakan untuk membayar cicilan hutang. Mereka mencari solusi agar kehidupan mereka bisa kembali terasa nyaman. Mereka membutuhkan solusi keuangan, maka dilakukanlah strategi menyiasati hutang yang sudah membebani aliran pendapatan mereka. Mereka merasa lega dengan solusi yang diberikan, hutang berkurang dan pembayaran cicilan berkurang yang artinya membebaskan mereka dari sedikit beban hutang.

Sudahkah saya sebutkan bahwa kebiasaan itu begitu POWERFUL? Ketika orang-orang ini sudah memperbaiki kondisi keuangannya dari hutang, tidak berapa lama mereka sudah berada dalam kondisi berhutang kembali. Pikiran kita akan melakukan berbagai cara agar kita berada dalam kondisi nyaman (comfort zone) sebelumnya - ternyata zona nyaman tidak betul-betul nyaman. Jadi, ternyata untuk merubah kebiasaan kita membutuhkan ritual baru, pola pikir baru dan keputusan baru. Semuanya berasal dari dalam diri dan dilakukan secara konsisten, berulang-ulang tanpa pengecualian. Ubah diri kita luar dan dalam, terutama sekali adalah kondisi dalam dengan memperhatikan setiap keputusan dan tindakan kita hari demi hari, jam demi jam dan menit demi menit, dan lakukan sekarang.